Senin, 28 Mei 2012

FENOMENA LAUT BERING (BERING SEA)

The next entri is about "Uptake and Storage of Carbon Dioxide in the Ocean". Wait ya... hehe

Setelah sekian lama, akhirnya nulis lagi juga..Ini dia nih yg saya maksud :




PENYEBARAN CO2 PADA PERAIRAN LAUT BERING (BERING SEA)
Laut Bering adalah salah satu ekosistem laut yang paling produktif di lautan global. Proses fisik dan musiman laut es maju dan mundur di Laut Bering memainkan peran utama dalam mengendalikan sifat massa air dan membentuk karakter ekosistem pelagis dan benthic yang ditemukan di laut tersebut. Di landas kontinen yang luas Laut Bering, tingkat produksi musiman yang tinggi fitoplankton pelagis primer mendukung populasi besar mamalia laut dan burung laut, dan perikanan pantai Alaska. 




Selama beberapa dekade terakhir, banyak penelitian telah dilakukan pada karakter fisik dan biologis yang terdapat pada Bering Laut, disamping itu ada juga beberapa studi dari siklus karbon laut, pertukaran CO2 antara udara-laut atau dampak potensial pengasaman kimia laut pada perairan dan ekosistem Laut Bering. Di daerah terbuka lautan Laut Bering, pengamatan pCO2 air laut (parsial tekanan CO2) dan karbon anorganik terlarut telah dilakukan pada beberapa daerah yaitu pada daerah yang dekat dengan barat Kepulauan Aleutian atau di luar Laut Bering di pilin subarctic dari Samudra Pasifik Utara. Di Laut Bering, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa kadar tinggi produksi primer fitoplankton pada musim panas diamati dalam "Green Belt” mengakibatkan penarikan nutrisi air laut anorganik dan DIC (dan pCO2) (Kelley dan Hood, 1971; Mathis et al, 2010.). Ekstensifitas Coccolithophore terbentuk pada Laut Bering yang terjadi secara musiman juga menurunkan alkalinitas total (TA) dan karbon anorganik terlarut (Robertson et al, 1994.), Tetapi pada saat sekarang ini, hanya terbatas penelitian tentang penilaian dampak Coccolithophores terhadap siklus karbon di Laut Bering (Murata dan Takizawa, 2002). Coccolithophores dapat meningkatkan konten pCO2 air laut dan dengan demikian akan memberikan kontribusi umpan balik Coccolithophore-CO2 negatif yang memiliki.implikasi potensial penting untuk peran laut global dalam penyerapan CO2 antropogenik, modulasi CO2 atmosfer dan tanggapan iklim selama beberapa abad berikutnya. (Riebesall et al.2000). Kontribusi dari Laut Bering terhadap penyerapan CO2 lautan global juga sangat tidak pasti. Studi awal berdasarkan pada pengamatan (Codispoti et al., 1982) dan pemodelan (Walsh dan Dieterle, 1994) mengatakan bahwa Laut Bering adalah berpotensi sebagai penyerap CO2 di atmosfer pada musim panas. Baru-baru ini, telah dilaporkan bahwa Laut Bering bertindak sebagai penyerap CO2 dengan nilai 200 Tg C per tahun. (Tg = 1012g C; Chen et al, 2004) dan.juga sebagai kontributor yang signifikan (> 10%) terhadap penyerapan CO2 global tahunan. Namun, data pCO2 air laut menunjukkan bahwa Laut Bering menunjukkan perubahan dari sumber (source) CO2 di musim semi/dingin yaitu pada bulan Januari sampai Maret  dan berubah menjadi penyerap (sink) CO2 ke atmosfer pada musim panas yaitu pada bulan Juni sampai Agustus (Takahashi et al., 2002). Hal ini disebabkan oleh produktifitas fitoplankton sebagai produsen primer dimana pada saat musim panas fitoplankton terutama Coccolithophores akan melakukan fotosintesis dan membutuhkan CO2 dari perairan sehingga kadar CO2 di perairan menjadi berkurang. Hal ini lah yang menyebabkan terjadinya keadaan supersaturasi pada laut tersebut sehingga laut akan terjadi sink CO2 pada daerah tersebut. Namun pada daerah tertentu di Laut Bering ini yaitu daerah barat laut Alaska terjadi pelepasan (source) CO2 dari laut ke atmosfer. Hal ini mungkin disebabkan karena kontribusi dari limpahan dari sungai yang kaya akan zat hara. Unsur hara di intermediate layer mengalami proses remineralisasi yang menghasilkan CO2 dan mengambil O2 ,sehingga kenaikan unsur hara diikuti juga oleh pelepasan CO2 ke atmosfer.  Pada saat musim dingin suhu atmosfer jauh lebih dingin dibandingkan suhu lautan, sehingga kolom perairan permukaan memiliki suhu yang lebih rendah (densitastinggi) dibandingkan bagian dalam yang lebih hangat (densitas rendah). Hal ini menyebabkan air dari bagian permukaan akan tenggelam dan air dari bagian dalam akan naik kepermukaan, naiknya air dalam ini diikuti dengan kenaikan unsur hara sehingga kandungan unsur hara di permukaan perairan akan menjadi meningkat. Kenaikan unsur hara ini akan menyebabkan terjadinya proses remineralisasi yang menghasilkan CO2 dan mengambil O2 ,sehingga kenaikan unsur hara diikuti juga oleh pelepasan CO2 ke atmosfer. Selain itu, pola angin yang terjadi juga ikut mempengaruhi keadaan CO2 pada Laut Bering ini. Dimana pada bulan Januari sampai Maret ,angin yang berasal dari daratan (Asia) sebelah barat Pasifik Utara yang bersifat kering dan panas berhembus, sehingga suhu permukaanlaut di Pasifik Utara menjadi lebih hangat, kelarutan cenderung rendah dan laut melepas karbon ke atmosfer.

REFERENSI :
Chen, C. T.-A., Andreev, A., Kim, K. R., and Yamamoto, M.: Roles of continental shelves and marginal seas in the biogeochemical cycles of the North Pacific Ocean, J. Oceanogr., 60(1), 17–44, 2004.
Codispoti, L. A., Friederich, G. E., Iverson, R. L., and Hood, D.W.: Temporal changes in the inorganic carbon system of the Southeastern Bering Sea during spring 1980, Nature, 296, 242–245, 1982.

Kelley, J. J. and Hood, D. W.: Carbon dioxide in the surface water of the ice-covered Bering Sea, Nature, 229, 37–39, 1971.

Mathis, J. T., Cross, J. N., Bates, N. R., Bradley Moran, S., Lomas, M. W., Mordy, C. W., and Stabeno, P. J.: Seasonal distribution of dissolved inorganic carbon and net community production on the Bering Sea shelf, Biogeosciences, 7, 1769–1787, doi:10.5194/bg-7-1769-2010, 2010.

Murata, A. and Takizawa, T.: Impact of a coccolithophorid bloom on the CO2 system in surface waters of the Eastern Bering Sea shelf, Geophys. Res. Lett., 29(11), 1547, 2002.

Riebesell, U., Zondervan, I., Rost, B., Tortell, P. D., Zeebe, R. E., and Morel, F. M. M.: Reduced calcification of marine plankton in response to increased atmospheric CO2, Nature, 407, 364–367, 2000.

Robertson, J. E., Turner, D. R., Holligan, P. M., Watson, A. J., Boyd, P., Fernandez, E., and Finch, M.: The impact of a coccolithophore bloom on oceanic carbon uptake in the northeast Atlantic during summer 1991, Deep-Sea Res., 41, 297–314, 1994.

Takahashi, T., Sutherland, S. G., Sweeney, C., Poisson, A. P., Metzl, N., Tilbrook, B., Bates, N. R., Wanninkhof, R. H., Feely, R. A., Sabine, C. L., and Olafsson, J.: Biological and temperature effects on seasonal changes of pCO2 in global ocean surface waters, Deep-Sea Res. Pt. II, 49, 1601–1622, 2002.

Walsh, J. J. and Dieterle, D. A.: CO2 cycling in the coastal ocean. I – A numerical analysis of the Southeastern Bering Sea with applications to the Chukchi Sea and the Northern Gulf of Mexico, Progr. Oceanogr., 74, 335–392, 1994.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar